KOMPASIANA.com - Hajatan demokrasi yang masih bisa dikatakan jauh (lama) waktunya, namun aromanya sudah sangat menyengat di penciuman publik saat ini. terutama tentang siapa calon pemimpin berikutnya pasca SBY yang berkuasa 2 periode.. kefiguran memang masih sangat relevan sebagai penghantar opini yang akan disuguhkan kepada masyarakat, maka tidak aneh jika para kandidat jauh jauh hari sudah memasang strategi untuk “pencitraan” dirinya dalam rangka merebut hati masyarakat. memang sah sah saja, siapapun berhak untuk memimpin negeri ini, dan itu di jamin oleh undang undang.
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Senin, 05 Agustus 2013
Minggu, 04 Agustus 2013
“Rakyat Miskin di Negara Kaya Raya”
KOMPASIANA.com - Salah seorang filantropi yang terkaya di dunia bernama William Henry Gates III pernah berkata: “Kalau Anda lahir miskin, itu bukan salah Anda, tapi jika Anda mati miskin itu jelas salah Anda”. Pernyataan dari mantan CEO Microsoft yang akrab disapa “Bill Gates” itu nampaknya mengandung sebuah kebenaran apabila diterapkan kedalam kehidupan pribadi seseorang. Namun apabila hal itu berkaitan dengan hak dari seorang rakyat yang lahir, hidup dan tinggal didalam sebuah negara, apalagi negara yang kaya raya, maka pernyataan tersebut belumlah dapat dianggap benar.
Pendiri “Bill and Melinda Gates Foundation” ini pernah berkunjung ke Indonesia dan menjadi pembicara utama dalam forum “Presidential Lecture” yang diselenggarakan di Jakarta oleh Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) pada awal bulan Mei tahun 2008 silam. Dalam forum itu Bill Gates didampingi oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, yang mendadak harus mengganti pakaian jasnya dengan kemeja batik dikarenakan sang pembicara tamu tampil dengan memakai batik rancangan dari Iwan Tirta.
Pendiri “Bill and Melinda Gates Foundation” ini pernah berkunjung ke Indonesia dan menjadi pembicara utama dalam forum “Presidential Lecture” yang diselenggarakan di Jakarta oleh Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) pada awal bulan Mei tahun 2008 silam. Dalam forum itu Bill Gates didampingi oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, yang mendadak harus mengganti pakaian jasnya dengan kemeja batik dikarenakan sang pembicara tamu tampil dengan memakai batik rancangan dari Iwan Tirta.
Sabtu, 27 Juli 2013
Awal yang Salah bagi Para Calon Wakil Rakyat Kita
Oleh : M. Nur Ghoyatul Amin
kompasiana.com - Mungkin kita sudah tidak asing lagi melihat foto-foto yang ganteng-ganteng dan cantik – cantik yang dibumbui dengan kata-kata bijak yang berbau janji yang tak jelas. Siapa lagi subyeknya kalau bukan para calon –calon wakil rakyat yang sedang mempromosikan dirinya agar mendapat simpati dari masyarakat.
Pemimpin yang cerdas merupakan hal yang mutlak. Jika melihat foto-foto dengan ukuran yang amat besar, bahkan menyamai tinggi bangunan inangnya, apakah itu bisa menggambarkan citra seorang pemimpin? malah yang ada baliho-baliho itu sangat mengurangi keindahan bangunan tersebut. Pohon besar yang seharusnya dirawat malah ditancapi paku untuk menempelkan gambar-gambar yang cakep-cakep itu dan alhasil jaringan pohon akan terluka, seperti manusia jika terluka pasti merasakan sakit. Setelah selesai dikemanakan sampah baliho-baliho tersebut, jawabanya pasti dibuang begitu saja dan tentunya akan meningkatkan volume plastic dilingkungan kita. Disamping itu sudah berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk pembuatan dan pemasangan baliho-baliho itu.
Pemimpin yang cerdas merupakan hal yang mutlak. Jika melihat foto-foto dengan ukuran yang amat besar, bahkan menyamai tinggi bangunan inangnya, apakah itu bisa menggambarkan citra seorang pemimpin? malah yang ada baliho-baliho itu sangat mengurangi keindahan bangunan tersebut. Pohon besar yang seharusnya dirawat malah ditancapi paku untuk menempelkan gambar-gambar yang cakep-cakep itu dan alhasil jaringan pohon akan terluka, seperti manusia jika terluka pasti merasakan sakit. Setelah selesai dikemanakan sampah baliho-baliho tersebut, jawabanya pasti dibuang begitu saja dan tentunya akan meningkatkan volume plastic dilingkungan kita. Disamping itu sudah berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk pembuatan dan pemasangan baliho-baliho itu.
Selasa, 09 Juli 2013
Politisi yang Merakyat, Bakal Populer dan Dipilih Rakyat pada Pemilu 2014
Oleh Uwan
www.merakyat.com - Pemimpin seperti apakah yang bakal
dipilih dan dipercaya rakyat pada Pemilu 2014 nanti? Dan Politisi seperti apakah yang bakal
laris dan bersinar pada Pemilu 2014 nanti? Jawabannya pasti Pemimpin dan Politisi yang baik di
antara yang baik. Seperti apakah politisi yang baik di antarayang baik itu? Jawabannya ada pada
penilaian masing-masing rakyat. Yang pasti ke depan, rakyat pasti lebih condong
mencari dan memilih Pemimpin & Politisi yang Merakyat.
Kenapa begitu? Karena seperti kita
ketahui, akhir-akhir ini Gaya
Kepemimpinan yang Merakyat
Semakin Populer saja di Masyarakat Sebaliknya gaya kepemimpinan yang
terkesan elegan, berwibawa, dan elite sepertinya sudah tidak populer lagi di
mata rakyat, karena gaya yang demikian terkesan seperti pencitraan semata.
Intinya gaya pemimpin yang mengutamakan pencitraan, sudah dianggap basi. Dan
pasti rakyat sudah melihat dan menilai dari sekarang kelakuan dan sikap dari
pemimpin atau politisi yang merakyat tersebut.
Minggu, 30 Juni 2013
Pemilu dan Pelembagaan Politik
Popularitas partai politik berada di titik nadir akibat banyak kadernya terlibat korupsi
Oleh : Jeffrie Geovanie*
shnews.co - Pelembagaan politik secara sederhana
bisa diartikan sebagai proses penguatan institusi-institusi politik
yang punya peranan penting dalam proses demokratisasi.
Institusi-institusi politik seperti inilah yang kita sebut sebagai
pilar-pilar demokrasi. Institusi yang memiliki peran signifikan yang
tanpanya demokrasi tak bisa berjalan.
Jumat, 15 Maret 2013
Gusdur Maha Guru PKB
KOMPASIANA.com - Jika bercerita mengenai Gusdur tidak akan selesai sehari semalam, karena beliau adalah sumber cerita ,, hehe. Gusdur mengawali karier politik dengan berperan sebagai prajurit solidaritas korban otoritarianisme Orde Baru, yang sejatinya mempunyai kekuatan tersembunyi. Selain itu , Ia juga sebagai intelektual yang mewacanakan kesadaran dan analisa struktural untuk membongkar hegemoni Orde Baru.
Kamis, 08 November 2012
Intoleransi yang (Tidak) Bisa Ditoleransi ?
Oleh : Drs. Osberth Sinaga, M.Si.
Survei LSI sangat mengejutkan kita semua. Hasil survei ini menjadi potensi yang mengancam keberagaman yang sedang kita galang untuk hidup bersama. Apa jadinya jika negara ini terkapling-kapling hanya karena faktor suku, agama, keyakinan, atau identitas yang berbeda. Padahal perbedaan itu sangat bagus dan bisa menjadi sumber daya yang hebat bagi sebuah bangsa. Apa yang dilaporkan LSI dimana gejala sikap intoleransi yang sangat tinggi sedang terjangkit dalam komunitas masyarakat kita harus dicegah agar tidak membahayakan bangsa ini.
Saat dimana-mana ada upaya maksimal dalam mensosialisasikan empat pilar kebangsaan kepada masyarakat dengan tujuan menciptakan kehidupan yang harmonis dikalangan warga, muncul pula hasil survei LSI yang sangat mengejutkan kita semua. Mengapa tidak survei LSI itu merupakan sesuatu yang tidak menggembirakan dalam pelembagaan kebhinnekaan di negara kita. Pemerintah sudah melakukan sosialisasi empat pilar kebangsaan supaya menjadi fondasi yang kokoh bagi bangsa ini. Tetapi apa lacur, sosialisasi dalam bentuk diskusi, seminar ternyata tidak efektif dalam masih belum kuat untuk menyatukan semua suku, agama, ras untuk hidup dalam kerukunan.
Sabtu, 06 Oktober 2012
Estafet Perjuangan Kemanusiaan (Mengenang 1000 Hari Wafat Gus Dur)
PKB Donggala,
Oleh : Akhmad Syarief Kurniawan,
Kader Muda NU Lampung.
Hampir genap seribu hari (1000) tak terasa KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) meninggalkan kita, sejak 30 Desember 2009 silam. Dalam tradisi Nahdlatul Ulama (NU) dikenal istilah tradisi peringatan Haul (peringatan 1 tahun wafat seseorang), Haul akan terasa dahsyat gemanya jika yang meninggal itu seorang tokoh kharismatik, ulama’ besar, pendiri sebuah pesantren dan seterusnya, dan Gus Dur-lah salah satunya.
KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah seorang Kiai, cendekiawan, aktivis, pemimpin humanis, tokoh demokrasi, tokoh lintas agama, pejuang hak-hak asasi dan pluralisme. Kita sebut dengan penuh penghormatan ”salah seorang putera terbaik”. Sepanjang hidupnya telah mencurahkan pikiran dan tenaganya untuk menegakkan harkat dan martabat setiap individu dan komunitas pada tempat yang setinggi-tingginya sebagai warganegara. Tidak ada perbedaan, tidak ada diskrimansi dan tidak ada eksploitasi.
Oleh : Akhmad Syarief Kurniawan,
Kader Muda NU Lampung.
Hampir genap seribu hari (1000) tak terasa KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) meninggalkan kita, sejak 30 Desember 2009 silam. Dalam tradisi Nahdlatul Ulama (NU) dikenal istilah tradisi peringatan Haul (peringatan 1 tahun wafat seseorang), Haul akan terasa dahsyat gemanya jika yang meninggal itu seorang tokoh kharismatik, ulama’ besar, pendiri sebuah pesantren dan seterusnya, dan Gus Dur-lah salah satunya.
KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah seorang Kiai, cendekiawan, aktivis, pemimpin humanis, tokoh demokrasi, tokoh lintas agama, pejuang hak-hak asasi dan pluralisme. Kita sebut dengan penuh penghormatan ”salah seorang putera terbaik”. Sepanjang hidupnya telah mencurahkan pikiran dan tenaganya untuk menegakkan harkat dan martabat setiap individu dan komunitas pada tempat yang setinggi-tingginya sebagai warganegara. Tidak ada perbedaan, tidak ada diskrimansi dan tidak ada eksploitasi.
Kamis, 04 Oktober 2012
Sepenggal Kisah Dari Pinembani: To Pakava, Orang-orang Yang Terlupakan
Oleh: Ewin Laudjeng**
Mau Koe Kodi Bulu Siora,
(Meskipun Kecil Gunung Siora)
Ne Nuepe Kanja Rede Kadana,
(Jangan Kau Peduli Tubuhnya Yang Pendek)
Njisi Ri Vana, Nalabu Savana
(Meresap ke Rimba, Karamlah Sevanah)
Njisi Ri Lemba, Nalabu Salemba,
(Meresap ke Lembah, Karamlah Selembah)
Njumampipi Vana Manggasuvia
(Sekeliling Rimba memberi Penghormatan)
(Meskipun Kecil Gunung Siora)
Ne Nuepe Kanja Rede Kadana,
(Jangan Kau Peduli Tubuhnya Yang Pendek)
Njisi Ri Vana, Nalabu Savana
(Meresap ke Rimba, Karamlah Sevanah)
Njisi Ri Lemba, Nalabu Salemba,
(Meresap ke Lembah, Karamlah Selembah)
Njumampipi Vana Manggasuvia
(Sekeliling Rimba memberi Penghormatan)
Selasa, 14 Agustus 2012
Raport Merah Bupati Donggala Di HUT 60 Tahun Kabupaten Donggala
Oleh : Syafruddin. K ***
Selamat ulang tahun ke-60 tahun Kabupaten Donggala. Di hari yang sangat membahagiakan ini, kabupaten Donggala memasuki umur yang cukup matang dan telah menorehkan berbagai prestasi baik di kancah daerah maupun nasional. Prestasi tersebut diungkapkan oleh Gubernur Sulteng, Longki Djanggola dalam sambutannya pada perayaan HUT Kabupaten Donggala yakni penghargaan Piala Adipura ke kempat kalinya dari Presiden RI dan mendapatkan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK RI Perwakilan Sulteng.
Atas prestasi tersebut, Gubernur Sulteng mengharapkan “Kabupaten Donggala dapat menjadi kota impian dan icon Sulawesi Tengah yang patut untuk dibanggakan,” kata gubernur dihadapan Bupati Donggala, Habir Ponulele dan seluruh pejabat Pemerintah kabupaten Donggala.
Di hari yang sangat membanggakan di pertengahan tahun 2012 ini, ada satu prestasi (baca prestasi negatif) yang mungkin lupa disampaikan oleh Gubernur Sulteng yakni peristiwa tragedi berdarah di Balaesang Tanjung, yang mengakibatkan 1 orang tewas, 4 orang luka tembak dan 15 orang lainnya mendekam di tahanan Polres Donggala.
Minggu, 01 Juli 2012
Membendung Kekerasan Atasnama Agama
PKB Donggala - Sulawesi Tengah,
Oleh : Marwan Ja'far*
Beberapa hari yang lalu, tepatnya pada Rabu, 09/5/2012, sekelompok massa dari organisasi kegamaan tertentu melakukan penyerangan terhadap sebuah diskusi yang berlangsung di lembaga LKiS Yogyakarta. Tak hanya menyerang, mereka juga secara anarkhis merusak tempat berlangsungnya diskusi yang menghadirkan Irshad Manji, tokoh feminis dari New York University. Sebelumnya, kelompok ini juga melarang dilakukannya diskusi yang sedianya diadakan di Universitas Gadjah Mada. Dalam melakukan tindaknnya, mereka selalu saja berdalih atas nama Tuhan dan berlindung di balik jubah agama.
Sekedar mereview ingatan kita bersama, belum lekang dalam diingatan kita bagaimana pada tahun 2011 bom bunuh diri juga meledak di masjid Mapolresta Cirebon, gereja Bethel Injil Solo dan juga beberapa tempat lainnya yang memakan banyak korban. Semua dilakukan atas nama agama dan jihad. Serangkaian peristiwa tersebut membuktikan bahwa agama memang seringkali dijadikan justifikasi dalam melakukan tindak kekerasan.
Dalam beberapa peristiwa di atas, agama yang sarat dengan nilai-nilai keluhuran, di tangan sebagian pemeluknya justru telah berubah menjadi-meminjam istilah Mark Juergensmeyer (2006)- malaikat yang selalu meniupkan terompet kematian bagi siapapun yang berbeda keyakinan. Perjuangan menegakkan agama berubah menjadi monster yang begitu menakutkan.
Oleh : Marwan Ja'far*
Beberapa hari yang lalu, tepatnya pada Rabu, 09/5/2012, sekelompok massa dari organisasi kegamaan tertentu melakukan penyerangan terhadap sebuah diskusi yang berlangsung di lembaga LKiS Yogyakarta. Tak hanya menyerang, mereka juga secara anarkhis merusak tempat berlangsungnya diskusi yang menghadirkan Irshad Manji, tokoh feminis dari New York University. Sebelumnya, kelompok ini juga melarang dilakukannya diskusi yang sedianya diadakan di Universitas Gadjah Mada. Dalam melakukan tindaknnya, mereka selalu saja berdalih atas nama Tuhan dan berlindung di balik jubah agama.
Sekedar mereview ingatan kita bersama, belum lekang dalam diingatan kita bagaimana pada tahun 2011 bom bunuh diri juga meledak di masjid Mapolresta Cirebon, gereja Bethel Injil Solo dan juga beberapa tempat lainnya yang memakan banyak korban. Semua dilakukan atas nama agama dan jihad. Serangkaian peristiwa tersebut membuktikan bahwa agama memang seringkali dijadikan justifikasi dalam melakukan tindak kekerasan.
Dalam beberapa peristiwa di atas, agama yang sarat dengan nilai-nilai keluhuran, di tangan sebagian pemeluknya justru telah berubah menjadi-meminjam istilah Mark Juergensmeyer (2006)- malaikat yang selalu meniupkan terompet kematian bagi siapapun yang berbeda keyakinan. Perjuangan menegakkan agama berubah menjadi monster yang begitu menakutkan.
Senin, 25 Juni 2012
Biografi Gusdur
PKB Donggala
oleh : Mahbub Risad
RIWAYAT HIDUP
Abdurrahman Wahid lahir dengan nama Abdurrahman ad-Dhakhil, dari maknanya, “ad-Dhakhil” berarti “Sang Penakluk”, sebuah nama yang diambil K.H. A. Wahid Hasyim, orang tuanya, dari seorang perintis Dinasti Umayyah yang telah membawa kejayaan Islam di Spanyol selama berabad-abad. Pada proses perjalanan waktu, kata “ad-Dhakhil” tidak cukup dikenal dan diganti nama “Wahid”, Abdurrahman Wahid, dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. “Gus” adalah panggilan untuk seorang anak kiai. “Gus” sebenarnya kependekan dari ucapan “bagus”, sebuah harapan seorang ayah kepada anaknya agar menjadi bagus.Selain itu “Gus” adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada seorang anak kiai yang berati “abang” atau “mas”.
oleh : Mahbub Risad
RIWAYAT HIDUP
Abdurrahman Wahid lahir dengan nama Abdurrahman ad-Dhakhil, dari maknanya, “ad-Dhakhil” berarti “Sang Penakluk”, sebuah nama yang diambil K.H. A. Wahid Hasyim, orang tuanya, dari seorang perintis Dinasti Umayyah yang telah membawa kejayaan Islam di Spanyol selama berabad-abad. Pada proses perjalanan waktu, kata “ad-Dhakhil” tidak cukup dikenal dan diganti nama “Wahid”, Abdurrahman Wahid, dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. “Gus” adalah panggilan untuk seorang anak kiai. “Gus” sebenarnya kependekan dari ucapan “bagus”, sebuah harapan seorang ayah kepada anaknya agar menjadi bagus.Selain itu “Gus” adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada seorang anak kiai yang berati “abang” atau “mas”.
Langganan:
Postingan (Atom)